Sabtu, 30 Januari 2010

review aLbum perdana PWG







Artis : PEE WEE GASKINS

Album : Stories From Our High School Years

Genre : Melodic Pop Punk

Label : KNURD Records


Masa-masa High School atau SMA adalah masa yang tidak akan pernah kita lupakan. Di fase hidup periode ini, kita merasa segala sesuatunya adalah hal Break Through, dari masalah Percintaan, Bersosialisasi, Pertemanan, Kemarahan tanpa sebab, dan juga, (maaf) segala sesuatu yang bisa membuat kita tak sadarkan diri atau Mabuk. Ke semua hal itu sepertinya ingin ditunjukkan oleh band baru bernama Pee Wee Gaskins (PWG), yup, band yang beraliran Pop Punk ini seperti membawa kita kembali kepada masa SMA yang Liar, Romantis, dan Menyenangkan, tetapi kadang kala bisa membuat kita Menangis juga, lewat album pertama mereka yang berjudul Stories From Our High School Years. Album yang berisi 5 lagu berirama Pop Punk dengan aura ceria ini memang sedang menjadi Hot Topic dalam scene komunitas band indie tanah air. Di buka dengan lagu pertama yang berjudul You Throw The Party, We Get The Girls, PWG memaksa kita mengingat kembali kepada seorang gadis yang pernah kita cintai walau hanya dalam khayalan kita saja, di lagu ke dua, berjudul Tatiana, kita seperti menerawang mengingat saat-saat kita sedang bertengkar dengan gebetan kita masa SMA dulu, atau mungkin juga lagu ini bisa dijadikan soundtrack untuk menembak cewe atau cowo gacoan kita, lanjut ke lagu ke tiga berjudul, The Art Of High School Break Up, dari judulnya saja kita bisa menebak, kalau lagu tersebut pasti membicarakan patah hati, kesedihan, dan mungkin juga perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan kita, lagu ke empat yang berjudul Here Up On The Attic, menceritakan (lagi), perasaan kita yang sedang berbunga-bunga terhadap cinta dari gebetan kita, dan lagu terakhir, satu-satunya lagu yang berbahasa Indonesia, berjudul Berdiri Terinjak, seperti menjadi sebuah Anthem untuk para kaum Dorks atau Geeks atau juga Loosers di SMA, tetapi, entah mengapa saya merasa pengaruh Rocket Rockers (salah satu band Melodic Punk asal Bandung) sangat terasa sekali di lagu ini, apa karena Ucay sang vokalis Rocket Rockers turut serta dalam menulis lirik dilagu ini? Anyway, dari Blink 182, The Rentals, New Found Glory, Bowling For Soup, sampai +44, sepertinya sangat mempengaruhi band ini, sangat disayangkan sound yang keluar dialbum ini tidak begitu menyenangkan, semenyenangkan masa SMA itu sendiri. Ok, kesimpulan saya terhadap album ini adalah, masa SMA, adalah masa yang tidak akan kita lupakan sampai kita mati sekalipun, jadi mungkin sah-sah saja apabila saya berkata High School Never Ends (mengutip salah satu judul lagi dari band Pop Punk asal Texas, Amerika, Bowling For Soup), asalkan kita juga jangan lupa kalau hidup itu harus berjalan terus.

sumber ::
http://whatzups.com/index.php?menu=59&hal=5&nxid=1611&title=Pee-Wee-Gaskins

Pangeran Pensi

nii aq p0st uLang sbuah artikeL tntng PWG . .

Pee Wee Gaskins si Pangeran Pensi


Nama Pee Wee Gaskins merajai pentas seni (pensi) sekolah-sekolah di Jakarta dan sekitarnya. Band asal ibu kota itu pun kini masih menikmati gelar pangeran pensi dengan santai.

"Kita maunya disebut pangeran pensi aja. Ya rezeki nggak akan kemana," ujar Sansan sang vokalis ketika berbincang dengan detikhot baru-baru ini.

Band yang digawangi Aldy (drum), Omo (kibord), Dochi (gitar), Sansan (vokal) dan Eye (bass) memberi warna baru di kancah musik. Khususnya bagi anak muda yang melulu disuguhi band-band beraroma musik pop Disney.

Pee Wee Gaskins hadir dengan musik rock berbalut elekrik yang menyenangkan. "Senang aja, artinya anak muda sekarang selera musiknya beragam. Nggak itu-itu melulu," jelas Dochi.

Album perdana mereka 'The Sophomore' masih jadi konsentrasi mereka. Namun akhir tahun mendatang, Pee Wee Gaskins, akan segera menggarap album kedua. Februari 2010 jadi deadline Pee Wee Gaskins untuk merilisnya.

"Tapi sampai sekarang kita terus ningkatin link, promo di sana sini. Jadi nanti kalau udah semakin seatle kan enak," tutur Dochi.

sumber ::
http://www.invisibleman0595.co.cc/2010/01/pee-wee-gaskins-si-pangeran-pensi.html


tp adda beberappa ksaLahan d situ .
sbenerx aLbum perdana PWG itu bukhan THE SOPHOMORE .
THE SOPHOMORE itu aLbum k 2 .
aLbum perdanax ituw STORIES FROM OUR HIGH SCOOL YEARS .
thn 2010 inni yg aq Lupa buLan appa (pdhL udda tanya ma bang d0chii) , mreka riLis aLbum ke 3 .

Jumat, 29 Januari 2010

MOCCA

akhir" inni saiia tertarik samma band inni nii .
g bermaksud ngLupa.in PeeWeeGaskins , tp Lagii suka ma Lagu"x mocca .
nenangin bngt . .
kaiia "on the night Like this" yg jadii OST Catatan Akhir sekoLah .
nah . . , nii profiLx . .



Mocca adalah kelompok musik indie asal Bandung. Grup ini beranggotakan Riko Prayitno (gitar), Arina Ephipania (vokal dan flute), Achmad Pratama (bass), dan Indra Massad (drum).



Pada mulanya Arina dan Riko merupakan teman satu kampus di Institut Pertanian Bogor. Mereka tergabung dalam sebuah band kampus tahun 1997-an. Karena tidak cocok dengan anggota yang lain, Arina dan Riko pun sepakat mendirikan "Mocca". Dua tahun kemudian mereka bertemu dengan Indra dan Toma. Indra dan Toma merupakan teman satu kampus, mereka belajar desain produk di Bandung dan masuk ke Mocca pada waktu yang sama.

Mocca pertama kali mucul dalam kompilasi Delicatessen (2002), dan langsung merebut hati penggemar.

Satu tahun kemudian mereka mengeluarkan debut album mereka "My Diary" (2003) dengan label indie "FFWD". Album ini meldak di pasaran. Lagu-lagu seperti "Secret Admirer" dan "Me and My Boyfriend" menjadi hits di mana-mana. Video klip "Me and My Boyfriend" mendapat penghargaan sebagai "best video of the year" versi MTV Penghargan Musik Indonesia 2003.



Bahkan mereka menandatangani kontrak dengan salah satu indie records di Jepang, Excellent Records, untuk mengisi satu lagu dalam album yang format rilisannya adalah kompilasi book set (3 Set) yang berjudul "Pop Renaisance". Ada 3 disc yang diedarkan di Jepang dan Mocca berada di disc no. 2 dengan lagu "Twist Me Arround".

Lagu-lagu Mocca sendiri menggunakan bahasa Inggris dengan alasan memudahkan penulisan syair serta kesesuaian dengan warna lagu pop dengan sentuhan swing jazz, twee pop, dan suasana ala 60-an.

Mocca kembali merilis album kedua mereka tahun 2005 bertajuk "Friends" masih dibawah label indie, Fast Forward Record. Dalam album ini Mocca tidak tampil sendirian. Mereka menggaet dua musisi andal untuk memperkaya musik mereka. Dari dalam negeri, mereka menghadirkan Bob Tutupoli untuk mengisi suara dalam lagu "This Conversation" dan lagu yang khusus dibuat untuknya, "Swing It Bob". Mereka juga berduet dengan musisi asal Swedia, Club 8. Bersama duo asal Swedia ini, Johan dan Karolina Komstedt, Mocca membawakan lagu "I Would Never".

Karier Mocca semakin menanjak. Tak hanya di dalam negeri, mereka mengembangkan sayap ke Asia. Singapura, Malaysia, Thailand, dan Jepang telah menikmati album mereka.

Mocca juga terlibat dalam pembuatan lagu soundtrack. Kuartet ini pernah mengerjakan soundtrack film "Catatan Akhir Sekolah" karya Hanung Bramantyo dan soundtrack sinetron TV "Fairish the Series".

Mocca juga membuat sebuah mini album berisi 6 lagu, 2 di antaranya berbahasa Indonesia. Mini album ini sebelumnya berjudul "Sunday Afternoon", tapi dirilis dengan judul "Untuk Rena". Mocca terinspirasi naskah cerita film anak-anak berjudul "Untuk Rena". Mocca tak hanya mendapat inspirasi. Mereka juga mendapat kesempatan untuk memasukkan "Happy!" dan "Sebelum Kau Tidur" sebagai soundtrack film garapan Riri Riza itu.



Tahun 2007, Mocca mengeluarkan album ketiga mereka, "Colours". Album ini memuat materi baru, termasuk 2 cover song yaitu “Hyperballad” (Bjork) dan “Sing” (The Carpenters) serta sebuah kolaborasi dengan Pelle Carlberg (Edson) yang kemarin sempat menjadi tamu di LA Light IndieFest, dalam lagu “Let Me Go”.

from trax magazine

Live Report
Middle Finger Rules
16/12/2009





Jumat malam (11/12) lalu Pee Wee Gaskins sudah menunjukan kelas sebagai band punk tanah air yang cukup disegani di negeri seberang. Bertempat di Number One Cafe, Jl Tuanku Abdul Rachman, Kuala Lumpur, band punk asal Jakarta ini bersepanggung dengan MXPX All Stars. Bahkan PWG didaulat sebagai penutup. Walau tampil setelah band legend, PWG boleh berbangga karena penonton Kuala Lumpur tetap bertahan menonton penampilan Pee Wee Gaskins hingga usai.

Sebelum MXPX, acara yang dimulai jam 6 pm waktu setempat terlebih dahulu menjadi ajang parade band punk lokal seperti One Buck Short, Hello, Is This The Band?, Skunkfix, dan Dichi Michi. Band-band ini cukup punya nama di indie-scene KL


suasana di Number One Cafe



MXPX All Stars sendiri tampil dengan format istimewa. Embel-embel All-Stars dibelakang nama band ini menunjukkan penampilnya adalah para superstar. Karena dalam konser ini dedengkot MXPX Mike Herrera (vokalis dan basis), mengajak Kris Roe (gitar dan vokal The Ataris), serta Chris Wilson (drumer The Summer Obssesion). Format all-stars ini menimbulkan keunikan sendiri ketika penonton di Number One Cafe justru ber-sing-along saat MXPX membawakan beberapa nomor populer milik The Ataris.


MXPX All-Star


Kelar MXPX, penonton berbondong keluar ruangan cafe yang berubah menjadi bilik sauna dengan berjejalnya penonton. Kondisi yang sempat menghawatirkan karena takut penonton tidak ingin menonton penampil terakhir. Sementara crew PWG bersiap di panggung, Dochi dkk justru terlihat rileks di resto sebelah cafe. Mereka dengan senang hati melayani anak-anak punk Malaysia berfoto. Tampil setelah MXPX sempat menjadi pertanyaan besar. “Wah asik nih, MXPX jadi opening Pee Wee,” canda Sansan. Rupanya rundown mendadak berubah karena MXPX harus berangkat ke Jakarta dengan penerbangan paling pagi dan langsung menuju Bandung. Dan Kris Roe yang sudah pernah ke Indonesia bersama The Ataris merekomendasikan Pee Wee Gaskin sebagai penutup konser mereka. “They are big in Indonesia,” kata Kris.


Pee Wee Gaskins


Kekuatiran ternyata tak berkepanjangan. ketika Pee Wee Gaskins siap beraksi, penonton yang semula berada diluar kembali masuk ruangan cafe yang dekorasinya sangat underground. Dochi (vokal, gitar), Sansan (vocal, gitar), Eye (bass), Omo (synth), Aldy (drums) langsung menggebrak. Intro disambung You Throw the Party We get the Girls. Sambutan hangat penonton KL menambah adrenalin Dochi dkk. Enerjik!!. Berturut kemudian meluncur Here up on the Attic dan Tatiana. Sing along pun berkumandang ketika Dibalik Hari Esok dilantunkan dengan semangat. Masih ada Everyday and Everynight dan Be Seen and Be Scene.


sing-a-long


Rencana semula yang cuma ingin menyanyikan 6 lagu berubah total. Crowd yang sempurna memaksa PWG total membawakan 10 lagu. Namun ada yang kurang dari penonton KL. Sedari awal tak ada acungan jari tengah. Apa karena anak punk KL terlalu sopan atau mereka tak mengerti 'middle finger rules' milik PWG. Padahal itulah ritual utama. Maka ketika membawakan Berdiri Terinjak, Dochi mengajak penonton semua mengacungkan jari tengah. Dan bayangkan seperti apa sempurnanya konser Pee Wee Gaskin. Lagu Berdiri Terinjak merupakan pameran emosi dan skill anak-anak PWG. Bertukar formasipun jadi tontonan menarik ketika Dochi berganti jadi bassist dan Eye memetik gitar. Dan bagian menarik ketika Omo mengambil gitar Sansan dan mulai bersolo. Ini adalah ritual mencapai puncak orgasme berganda setelah sebuah masturbasi yang panjang. Klimaks. Semua puas , semua senang. (Liputan lengkap invasi Pee Wee ke Malaysia ada Trax Magz edisi Januari) *Ops*

Rabu, 27 Januari 2010

kericuhan murid 9B pagii inni

pagii yg tdk terLaLu cerah pagii inni .
kericuhan pun muLay terjadi di 9B .

bhs inggris :: uLangan . Lumayand .
IPS :: pada pusing carii Pegunungan Hindukush d atLas .
TIK :: pada pusink biQn bL0g n e-maiL .

ramay skaLii d snii .
ntah.Lah kericuhan appa Lagii yg akhan terjadi steLah inni .